Senin, 30 November 2009

Mandau.Senjata Khas Dayak

Mandau, senjata tajam sejenis parang, merupakan salah satu kekayaan budaya Dayak di Kalimantan. Kedudukannya hampir serupa dengan keris bagi masyarakat Jawa atau rencong bagi warga Nanggroe Aceh Darussalam. Saat ini mandau juga disukai banyak warga dari luar Kalimantan.

Akhir April lalu (26/4) suara dentang logam terdengar bertalu-talu di sebuah bilik kecil di kawasan Geo Bos XIII, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Abdul Manaf (50) menekuri ritual hariannya membuat beragam jenis parang, termasuk mandau.

Masyarakat sering kali rancu dalam membedakan mandau dengan parang (warga setempat terkadang menyebutnya sebagai ambang). Sepintas, kedua peranti tajam tersebut tampak mirip.
Bedanya, parang atau ambang terbuat dari besi biasa dan tidak dilengkapi hiasan berupa ukiran. Bentuknya relatif sederhana tanpa pernak-pernik, mengingat kegunaannya melulu sebagai alat potong dan tebas ketika yang bersangkutan masuk-keluar hutan.

"Kalau mandau, ada bentuk ukir-ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering kali juga ada tambahan lubang-lubang di bilahnya, yang ditutup dengan tembaga atau kuningan sehingga makin indah dipandang," ungkap Manaf.

Lebih banyak ambang

Meski kemampuan membuat mandau merupakan keterampilan yang diwarisi dari kakek-neneknya, saat ini Manaf lebih banyak mendapat pesanan membuatkan parang atau ambang. Setiap hari selalu saja ada pesanan masuk, rata-rata empat hingga lima bilah.

Bahan baku pembuatan mandau atau ambang antara lain besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan besi batangan lainnya. Peranti kerja yang digunakan terutama adalah palu, betel, dan sebatang besi runcing guna melubangi mandau untuk hiasan.

Manaf menggunakan pengembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala kayu ulin yang dipakainya untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Dia memanfaatkan limbah kayu ulin dari sebuah usaha pembuatan kusen di Palangkaraya.

Apabila pemesan membawa besi milik sendiri, harga satu parang sekitar Rp 25.000 sebagai upah pengerjaannya. Namun, apabila menggunakan besi stok yang dimiliki Manaf, harga parang yang berwujud mandau berukuran 50-an sentimeter sekitar Rp 40.000 per bilah. Harga sebilah mandau asli saat ini di Palangkaraya mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Di Jalan Darmosugondho, Palangkaraya, ada sederetan toko barang antik dan khas Dayak. Beberapa di antaranya juga melayani jual beli mandau asli, yang kebanyakan didapat dari daerah pedalaman Kalteng.

Udin, pegawai sebuah toko barang antik di Palangkaraya, menuturkan, harga mandau untuk cendera mata Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per bilah. Apabila jenis besi yang digunakan lebih bagus, harga mandau seperti itu bisa menembus Rp 300.000 per bilah. Mandau yang berupa cendera mata biasanya bergagang kayu.

Mengenai mandau yang asli, menurut Udin, harga yang termurah saat ini sekitar Rp 1 juta. "Ada juga mandau yang selain berusia tua, besinya kuat, dan hiasannya pun menarik. Harganya? Bisa mencapai Rp 20 juta per buah," katanya.

Gagang mandau asli kebanyakan terbuat dari tanduk rusa dan berukir, dengan motif yang elok. Ditambah dengan bulu binatang atau rambut manusia yang dilekatkan di pangkal gagang, makin gagahlah tampilan senjata khas Dayak itu.

Mandau dilengkapi dengan kumpang (sarung yang terbuat dari kayu, dan lazimnya juga dihias dengan ukiran). Di kumpang itu terikat pula semacam kantong yang terbuat dari kulit kayu berisi pisau penyerut dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas.

Ketika masuk-keluar hutan, mandau yang tersarungkan dalam kumpang biasanya diikatkan di pinggang dengan jalinan rotan.

Besi matikei

Berdasarkan literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, terdapat sejenis bahan baku pembuat mandau, yaitu besi (sanaman) matikei, yang didapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sanaman Matikei, Samba, Kotawaringin Timur. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokkan.

Valarien, warga Palangkaraya, menuturkan, hampir di semua kabupaten/kota di Kalteng dapat ditemui orang yang memiliki keahlian membuat parang ataupun mandau. "Namun, hanya sedikit yang mampu membuat mandau sebagai senjata atau pusaka, atau setingkat empu keris di Jawa," katanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COMENTAR ANDA.....?

Cari Blog Ini

Daftar Blog

Bagaimana blog ini menurut anda....?