Senin, 30 November 2009

Legenda sebeji

Masyarakat sekitar bukit kelam mengenal legenda yang terkait dengan bukit tersebut. Konon hidup dua pemimpin daerah setempat yang yang diyakini sebagai keturunan dewa di negeri Sintang.
Salah seorang dari mereka adalah Bujang Beji atau lebih dikenal dengan Sebeji yang sifat dan perangainya kasar,perusak,pendendam,pendengki,iri hati dan parahnya lagi dia serakah,terutama menyangkut ilmu kesaktian.konon dia paling dengki dengan orang yang lebih sakti dari dirinya dan selalu berkeinginan untuk melebihi orang lain,karena dia tidak ingin ada orang yang lebih sakti dari dirinya.

Sedangkan yang lainya adalah seorang temenggung yang bernama Marubai dengan sifat kebalikan dari Bujang beji,dia arif dan bijaksana,suka menolong,berhati mulia dan rendah hati.Kedua pemimpin itu keseharianya adalah menangkap ikan untuk menghidupi keluarganya,selain itu mereka juga berdagang dan berkebun.
Bujang beji dan para pengikutnya menguasai sungai disimpang Kapuas, sedangkan tumenggung Marubai menguasai Simpang sungai melawi.
Ikan di Simpang sungai melawi beraneka ragam dan berjumlah lebih banyak di bandingkan dengan sungai simpang Kapuas.
Tumenggung Marubai menangkap ikan di simpang sungai melawi dengan menggunakan bubu(perangkap ikan)yang terbuat dari bambu dan memasangnya di Aliran sungai yang berarus deras yang banyak sekali dilewati ikan hilir mudik,dengan begitu ikan-ikan akan mudah terperangkap masuk kedalam bubu.Hasil tangkapan ikan tersebut kemudian dipilih-pilih dan hanya ikan yang besar-besar yang dipilih sedangkan ikan yang masih kecil dilepaskan kembali agar ikan disimpang sungai melawi tidak habis untuk kemudian ditangkap lagi setelah besar.Dengan cara yang demikian itu,ikan-ikan di simpang sungai melawi tidak akan pernah habis dan akan terus berkembang biak.
Mengetahui hal tersebut, Bujang beji iri hati, diapun menangkap ikan disimpang sungai Kapuas dengan Cara khas suku Dayak yaitu menangkap ikan dengan Cara menuba (meracun ikan-ikan dengan tuba yang di dapat dari akar-akar tumbuhan maupun dari buah tumbuhan yang memabukan). Dengan Cara ini Bujang beji mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak dari Tumenggung Marubai karena ikan-ikan kecil maupun ikan-ikan besar Akan mabuk dan mati semua karena terkena air tuba.
Awalnya Bujang beji memperoleh tangkapan ikan yang lebih banyak dari Tumenggung Marubai, tapi lama-kelamaan ikan di Simpang sungai Kapuas habis karena terlalu sering dituba oleh Bujang beji dan para pengikutnya. Sementara di simpang sungai melawi ikan sungai tersebut tidak pernah habis, malah semakin banyak di karenakan Tumenggung Marubai selalu melepaskan ikan-ikan kecil yang kemudian berkembang biak menjadi banyak, tambahan lagi ikan-ikan dari simpang sungai kapuas yang masih hidup ada yang bermigrasi ke Simpang sungai melawi untuk menghindari air tuba dari Bujang beji.Hal tersebut membuat bujang beji menjadi iri hati dan dengki kepada Tumenggung Marubai.
Bujang beji akhirnya berniat buruk terhadap Tumenggung Marubai,dia berniat menghentikan aliran sungai Simpang melawi dengan menutup aliran sungai bagian hulu,maka di angkatlah oleh Bujang Beji sebuah bukit batu yang ada di Nanga Silat.
Di tengah perjalanan Bujang beji terjatuh dan bukit yang dibawanyapun jatuh disebuah rantau yaitu pantai sepanjang teluk/sungai pesisir/ lawan darat yang sekarang di sebut Jetak.Upaya yang dilakukan oleh Bujang Beji untuk mengangkat kembali bukit batu tersebut tidak membuahkan hasil, maka menetaplah puncak bukit itu di rantau tersebut, Puncak bukit itulah yang kemudian menjadi bukit kelam yang terlihat sampai sekarang ini.

Bagaimana komentar anda setelah membaca artikel ini..?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COMENTAR ANDA.....?

Cari Blog Ini

Daftar Blog

Bagaimana blog ini menurut anda....?